Ikhlas dan Amal Oktober 11, 2008
Posted by yohandromeda in Uncategorized.trackback
Secara harfiyah, ikhlas artinya bersih atau murni. Ikhlas adalah melepaskan diri dari segala perkara selain Allah Swt dengan memurnikan perkataan dan perbuatan serta meninggalkan segala pengaruh luar yang mencampurinya. Orang yang ikhlas menurut Imam Syahid Al-Banna, bila setiap muslim harus mengharapkan keridhaan Allah dan pahala dari semua ucapan, amal dan jihad yang dilakukannya tanpa didorong oleh kepentingan pribadi, penampilan, kemewahan, pangkat, gelar, kedudukan dan lainnya. Dengan ini, seorang muslim menjadi laskar ideologi dan aqidah, bukan orang yang mengejar kepentingan pribadi.
Keikhlasan akan membuat sekecil apapun amal seseorang tercatat di sisi Allah Swt, sedang tanpa keikhlasan sebesar dan sebanyak apapun amal seseorang tidak ada catatan pahala dan nilai sedikitpun dihadapan-Nya. Oleh karena itu, untuk mencapai keikhlasan ini, setiap muslim harus selalu membetulkan dan meluruskan niatnya. Ia harus selalu mengintrospeksi diri tentang dorongan dan motif hakiki apa saja dibalik setiap amal yang dilakukannya. Setelah membetulkan niatnya itu baru ia boleh meneruskan amalnya.
Keikhlasan akan membuat seseorang selalu melakukan kebaikan, baik pada saat sulit maupun saat senang, ada yang memuji atau malah banyak yang menghina, bahkan dia tidak peduli, apakah amal itu akan menguntungkan secara duniawi atau malah merugikan, dan orang yang ikhlas juga akan merasa senang bila orang lain mencapai kemajuan dan kenikmatan, meskipun dia tidak mendapatkan apa-apa.
Ikhlas akan membuat seberat apapun amal yang harus kita lakukan akan terasa menjadi ringan, sedang tanpa keikhlasan, seringan apapun amal yang harus kita lakukan akan terasa menjadi berat. Salah satu dari sekian banyak kekhawatiran Rasulullah Saw terhadap umatnya adalah bila tidak ada keikhlasan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik yang kecil”. Sahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Riya”
Dalam kehidupan seorang muslim, amal merupakan manifestasi dari keimanan kepada Allah Swt. Iman harus dibuktikan dengan amal dan amal harus dilandasi oleh iman. Karena itu, di dalam Al-Qur’an, kata iman seringkali dirangkai dengan ilmu, bahkan kita bisa menyimpulkan bahwa antara iman dengan amal shaleh seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Amal (aktivitas) adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Dalam konteks inilah, betapa amal begitu banyak dan luas yang urutannya meliputi, Pertama, memperbaiki diri sendiri sehingga menjadi manusia yang memiliki tubuh yang kuat, akhlak yang terpuji, pikiran yang kaya dengan ilmu, mampu berusaha, aqidah yang lurus, mengendalikan hawa nafsu, disiplin, mampu memanfaatkan waktu dengan baik, beribadah secara baik, dan bermanfaat bagi orang lain.
Kedua, membentuk keluarga muslim sehingga anggota keluarga menghormati ide dan pemikirannya, memelihara etika Islam, bijak dalam memilih calon isteri, mendidik anak-anak dengan baik dan membentuknya sesuai dengan Islam.
Ketiga, membimbing masyarakat dengan menyampaikan seruan kebaikan, memerangi kejahatan dan kemunkaran, mendorong segala keutamaan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, bersegera melakukan kebaikan, membentuk opini yang islami serta mewarnai berbagai aspek kehidupan dengan nilai-nilai Islami.
Keempat, memerdekakan tanah air dari cengkeraman kekuasaan asing yang bukan Islam, baik dibidang politik, ekonomi, mental maupun spiritual.
Kelima, memperbaiki pemerintahan sehingga menjadi pemerintahan yang sesuai dengan Islam, yakni sebagai pelayan umat dengan menjalankan kewajiban Islam dan tidak melakukan kemaksiatan.
Keenam, mewujudkan kembali kesatuan dunia Islam dengan cara membebaskannya dari keterjajahan, menghidupkan kembali kejayaan Islam, mendekatkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. ***
Komentar»
No comments yet — be the first.