jump to navigation

Andai “Ia” Tak Pernah Ada September 20, 2008

Posted by yohandromeda in Uncategorized.
trackback

Banyak hal kita sadari bermanfaat ketika kesempatan berbuat lebih banyak telah berlalu. Seringkali penyesalan selalu datang dengan segenap kekesalan yang ujung-ujungnya menimbulkan benih-benih frustasi dalam diri. Ya… itula kenapa orang bijak mengatakan, penyesalan selalu datang diakhir. Andai ia bisa diprediksi diawal, tentulah tidak ada satu orangpun yang akan merasa kecewa dalam hidupnya. Tentu tidak ada satu orangpun yang akan melakukan tindakan bodoh dengan menyiksa diri akibat deraan frustasi yang mendalam.

Disadari atau tidak, bulan ramadhan penuh makna kali ini telah 21 hari kita lewati. Sore itu saya terbangun setelah siangnya beraktivitas dengan teman-teman dan mulai menghitung beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk menyambut hari kemenangan, iedul fitri. Ada banyak rencana dalam diri ini untuk melakukan berbagai hal guna mengisi hari-hari suci umat Islam ini, apalagi tahun ini saya tidak punya rencana mudik.

Terbersit keinginan diakhir ramadhan tahun ini kami bisa berbagi dengan mereka-mereka yang kurang beruntung. “Saya pikir saat ini kebutuhan sembako pasti lebih tepat,” gumam hati ini. Di sisi lain ada bisikan, sebaiknya uang cash, karena itu bisa digunakan membeli berbagai kebutuhan yang mendesak. Sampai semua pikiran itu terhentak oleh suara lembut Khafiyya, putri saya yang dengan suaranya yang manja berujar, “Abi kok belum sholat? Ini kan sudah lewat Ashar!” tegurnya sambil tersenyum.

“Astagfirullah” batinku. Ternyata saya telah melewati shalat Ashar dengan tidur tadi. “Makasih sayang udah ingatkan abi” ujarku sambil bangkit dan mencium pipi putri semata wayang kami. Aku langsung bangkit dan menuju kamar mandi, berwudhu dan terus shalat. Diakhir shalat saya kembali tersungkur, ingat dengan teguran tadi. hanya mohon ampunan dan sesal yang terucap dalam lisan ini, tak terasa butiran air bening itu kembali menetes dari sudut mata ini teriring rasa syukur yang sangat dalam atas karunia putri yang sholehah.

Andai ia tak pernah hadir dalam hidup ini, andai karunia-Nya jauh dari keshalehan, tentu penyesalan yang akan terjadi. Saya mulai membayangkan berapa banyak anak yang lahir tidak diinginkan orang tuanya, betapa banyak anak yang lahir namun ditelantarkan oleh orang tuanya. Sungguh, sekarang saya sadar betul, betapa anak merupakan investasi terbesar dari Allah Swt untuk kita.

Ialah yang bakal mengingatkan kita disaat kita lupa dan terlena. Ialah yang akan mendoakan kita disaat ajal menjelang. Bahkan doa-doanyalah yang hanya akan didengar dan sampai pada Allah Swt, saat semua doa oring lain jauh dari kabulan Allah Swt. Sebagaiman sabda Rasulullah SAW, “Terputuslah hubungan antara seorang hamba dengan dunianya kecuali untuk tiga hal, pertama atas amal jariah yang ia kerjakan selama hidupnya, kedua atas ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan kepada orang lain, dan ketiga atas doa anak yang shaleh”

“Alhamdulillah,” tak kurang-kurang ucap syukur mengalir dari lisan ini, bangga, haru, bahagia, bisa punya buah hati penyejuk pandangan, menghadirkan kebahagiaan dikala kesempitan melanda. Tiada kan pernah sesal memiliki anak yang sholeh dan sholehah.

Pun demikian dengan Ia, dalam setahun hanya 30 hari Ia bersama kita. Hari-hari yang didalamnya begitu banyak kebaikan yang diberikan Allah Swt. Malam yang didalamnya dipenuhi dengan lipatan-lipatan pahala kebajikan. Hari-hari yang didalamnya ada keberkahan, keampunan dan pembebasan dari siksa neraka. Lintasan waktu yang tidak pernah ada keburukan didalamnya bila diisi dengan amal. Bahkan tidurpun dinilai sebagai sebuh amal yang mendapat pahalal disisi-Nya. Malam-malam yang didalamnya terdapat keutamaan setera seribu bulan, “subhanallah.”

Sungguh bila bulan ini tidak pernah ada, dengan apa dibasuh semua dosa yang sudah melekat setahun sebelumnya. Kalau ibaratkan daki yang melekat ditubuh begitu lama, tentu tidak cukup hanya sabun mandi, mungkin perlu antiseptik lain atau bahkan detergen.

Bila dosa telah begitu banyak, tentu tidak cukup hanya puasa. Maka sedekah, infak, zakat, tilawah Al-Qur’an dan amal shaleh lainnya akan menjadi sabun dan antiseptik ampuh guna membasmi seluruh noda dan dosa.

Andai Ia tak pernah ada, tentu penyesalan akan tertuai diujung masa. Sesal kerena belum sempat menyucikan diri dari dosa. ***

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.