jump to navigation

Kurma dan Zamzam September 7, 2008

Posted by yohandromeda in Uncategorized.
trackback

Bisa dipastikan, hampir disemua rumah orang Islam, khusunya disaat bulan suci Ramadhan, buah ini selalu tersedia. Selain diyakini sebagai sebuah sunnah dikala berbuka puasa, buah ini juga sangat dianjurkan dimakan oleh kalangan medis.

Mengutip sebuah hadist Rasulullah Saw, “berbukalah dengan yang manis,” maka kurma menjadi sebuah pilihan yang tepat. Kandungan glukosa yang tersedia dalam buah kurma, langsung diserap oleh tubuh menjadi energi. Disamping itu, rasa manis kurma sekaligus mengkondisikan lambung yang kosong setelah sekitar 14 jam berpuasa, hingga siap disisi dengan berbagai jenis makanan lainnya.

Entah karena memang di-sunnah-kan atau sudah menjadi tradisi, rasanya buah yang konon kabarnya hanya bisa tumbuh di sekitar daerah Timur Tengah ini saja, seolah menjadi barang yang sangat bernilai ekonomis tinggi saat ini. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya, nampaknya kita tidak begitu perhatian dengan kurma. Seolah bila tidak sedang berpuasa, maka buah kurma tidak lagi menjadi makanan “utama” bagi umat muslim.
Benarkah begitu? Bagaimana dengan air zamzam? Di Masjidil Haram, zamzam bisa diminum setiap waktu. Berbeda bila di kampung halaman sendiri. Air ini hanya bisa dinikmati kala musim haji atau ada keluarga yang pulang umrah sebagai oleh-oleh dari Tanah Suci.

Zamzam adalah air yang bersumber dari sebuah sumur yang dalamnya 30,5 meter, berdiameter antara 1,08 meter hingga 2,66 meter, terletak di kompleks Masjidil Haram tepat di jalur pelataran tawaf. Dalam sejarahnya, sumber air zamzam dikirim Allah lewat jejakan kaki Nabi Ismail, yang disaat masih kecil ditinggalkan bersama ibunya, Siti Hajar oleh Nabi Ibrahim di sebuah padang gersang. Air itu menjadi oase di padang gersang tersebut bagi Ismail dan Siti Hajar waktu itu, dan mengalir tak pernah mati hingga hari ini.

Tidak ada air sebaik zamzam. Khasiatnya telah dibuktikan secara ilmiah dan dipastikan tidak akan pernah habis sepanjang zaman. Hasil uji laboratorium membuktikan bahwa bila dibandingkan dengan jenis air dari sumber lain di seluruh dunia, zamzam memiliki kandungan mineral kalsium, magnesium dan fluoride yang paling tinggi. Sangat baik bagi kesehatan tubuh. Hasil penelitian ilmiah ini sekaligus menguatkan fadhilah meminum air zamzam yang telah diamalkan umat muslim sejak zaman Rasulullah.

Tentu kurma dan zamzam tidak sesederhana itu khasiat dan keutamaannya. Saya menemukan satu lagi khasiat kurma dan zamzam setelah istri saya tiga hari yang lalu mengalami ganguan pada sistem pencernaannya, setelah sebelumnya “salah” makan makanan yang entah mengandung bahan apa, yang kami beli dari seorang penjual makanan jadi yang datang kerumah.

“Abi, tolong carikan kurma dan air zamzam untuk menurunkan keasaman lambung dan rasa sakit diperut umi.” Begitu SMS yang masuk ke HP saya siang itu. Saya tidak berfikir panjang kenapa harus kurma dan zamzam, padahal saya termasuk orang yang sangat fanatik dengan obat-obatan kimia, sesuai latar belakang pendidikan saya, seorang imunolog.
Saya langsung mengarahkan mobil menuju rumah Rifan Amin, salah satu tetangga yang kebetulan baru 3 hari pulang umrah. “Ulun mau minta kurma dan zamzam.” Pinta saya sesampai dimuka pintu rumahnya. “Lho, saya baru saja mau ke rumah pian mengantar zamzam dan kurma.” Pungkasnya sambil mempersilakan saya masuk.

Setelah sedikit berbincang seputar perjalanan umrahnya, saya langsung pamitan pulang sambil membawa tiga jenis kurma yang dibungkus secara berlainan dan sebotol air zamzam. Sesampai dirumah, istri saya langsung memakan beberapa butir kurma dan meminum air zamzamnya. Saya hanya bisa menyaksikan sambil menelan ludah, rasanya godaan untuk menengguk nikmatnya zamzam dan kurma harus saya tahan hingga waktu berbuka puasa tiba.

Sore harinya, istri saya mengutarakan kalo rasa sakit di perutnya semakin berkurang. Ia juga menceritakan informasi kurma dan zamzam itu didapatkannya setelah menelepon Anton Slamet, teman yang juga terapis di “At-Tibbun Nabawi. Pengobatan Ala Rasulullah” di Surabaya. “Subhanallah, ini karena kurma dan zamzam tadi.” Ungkapku. Kurma sebagai buah yang mengandung banyak glukosa, selain sebagai sumber energi juga bersifat basa, dan mampu menurunkan keasaman lambung. Begitupun mineral yang terkandung dalam zamzam, menyebabkan keasaman lambung turun, hingga rasa sakit akibat kelebihan asam lambung itu menjadi hilang.

Alhamdulillah, sungguh Allah Maha Kaya atas ciptaan-Nya. Tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia. “Rabbana maa khallaqta haazaa baathila. Ya Allah, sungguh tidak ada satupun yang Engkau ciptakan sia-sia.” Dalam jerit hati yang dalam saya berucap, “Fabiayyia laai rabbikumaa tukazzibaan. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?” Sungguh tak terhitung nikmat yang telah Ia karuniakan kepada kita. Ya Rabb, ampuni hamba yang sering lalai dalam bersyukur. ***

Komentar»

1. sandi - September 8, 2008

… dan entah mengapa, manusia selalu saja merasa tak pernah cukup dengan nikmat yang diberikan.
terima kasih ustaz yohan..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.